JERITAN PEREMPUAN EGO

Bookmark and Share
“Ibu, kapan lebaran bersama Putri? Kok betah di Hongkong, sih.” Ujar Putri dengan suara lugunya.
Suaranya yang lembut bagaikan godam menghantam hatiku. Seperti tajamnya belati merobek jiwa keibuanku. Aku merasa ibu tidak berguna, hanya rasa ego menguasai kehidupanku selama ini. Delapan tahun aku di Hongkong mengkais rejeki tidak cukup untuk membeli kasih sayang yang di butuhkan Putri. Berperan sebagai Bapak dan Ibu buat Putri, bukanlah hal yang mudah.

Aku sadar bahwa anakku butuh kasih sayang. Dia rindu berbuka puasa atau saur bersamaku, begitu juga yang aku rasakan saat ini. Tetapi ikatan takdir masih memisahkan jarak diantara anak dan ibu ini. Dengan sebongkah harapan aku dapat menjadi ibu yang baik baginya, dapat melaksanakan bulan puasa bersamanya. Semua itu akan terwujud dengan berjalannya waktu setelah finish kontrak. Tiap malam dalam sujudku hanya memohon di beri kekuatan menghadapi cobaan ini.

Cobaan batin terus menghujani kehidupanku tiada akhir. Ini sebuah ujian yang terus membawa kepedihan. Setiap aku teringat Allah, air mata tidak dapat dibendung lagi. Aku merasa takut, ya.. aku takut ditinggalkanNya seorang diri. Aku merasa terbiasa memohon, curhat, dan melepas keresahan pada Allah semata. Aku selalu menyebut Asma Allah setiap menit, setiap jam, bahkan setiap saat. Karena hanya dengan cara ini ada ketenangan tersendiri dalam hidupku. Meskipun kata-kata Putri tercintaku selalu mengikuti tiap jengkal langkahku.

Penglihatanku terasa kabur karena terus berderainya air mata disaat pertanyaan anakku tercinta terngiang di telinga. Kian beranjak hari aku semakin kian takut kehilangan dirinya. Ya… aku takut Allah semakin menjauh dariku, dan lalu membenciku bahkan menjauhiku hingga aku sendiri. Sendiri dalam sepi, seperti dirasakan hatiku kini. Sembilan tahun hatiku hancur sulit untuk dibangun kembali, seperti sebuah benteng istana yang tinggal puing-puingnya.

Jiwaku kian gersang bila ingat suara itu, suara merdu seperti burung kutilang yang selalu menggema di setiap lorong-lorong hatiku menuntut sebuah kasih sayang. Ya… aku tahu dan sangat paham kalau anakku haus kasih sayangku dan perhatianku. Tetapi, hati ini masih terasa hancur, perih bila teringat masa lalu itu.

Sembilan tahun aku menyimpan perasaan pilu. Dimana aku berjuang untuk menyelamatkan nyawaku dan anakku, sedangkan ayah dari bayiku menggelar sebuah pesta pernikahan dengan wanita lain. Saat itu, aku berbaring lemas untuk menjalani operasi. Kian ingat semakin kepala terasa berat, seperti godam menghantam purung kepalaku hingga hanya trauma selalu semayan dalam hidupku.

Hatiku terasa perih tersayat-sayat, bak belati menusuk-nusuk hatiku. Ingin menjerit, teriak, dan lari sekencang-kecangnya. Tetapi semua tidak dapat aku lakukan, karena tubuhku hanya bisa berbaring tidak berdaya, di tempat tidur aku dikelilingi sepuluh orang berbaju putih. Bibirku terus memanggil Allah, ya.. aku terus memanggil Allah selama pisau tajam itu merobek perutku lalu bayi dalam rahimku di keluarkan bersamaan suara tangisnya. Bayi itu kini mengharapkan aku pulang untuk menjalankan puasa dan lebaran bersamanya.

Betapa perihnya hati ini. Sebuah permintaan yang tidak dapat dinilai dengan uang membuat aku semakin takut kehilangan dia. Bibirku seakan tersekat oleh suaranya yang merdu gemercik seperti air suci keluar dari mata air telaga surga. Setiap ingat Allah air mata menetes kian membasahi pipiku yang kian menua. Aku semakin sadar dan merasa bersalah, sebab selamai ini hanya ego dan ambisi yang menjalar dalam hidupku.
Aku semakin lupa amanah Allah SWT yang di berikan padaku. Bahkan rasa enggan untuk menikah karena ego yang tinggi. Setiap ada seorang laki-laki menginginkanku, pasti ada alasan untuk menolak. Sehingga sifat ego-ku semakin menjadi, aku merasa hidup tanpa laki-laki bisa. Dan aku merasa sudah mampu mencukupi kebutuhan Putriku sehingga merasa tidak butuh pendamping lagi.

Hingga aku berjumpa dengan Ustad Sonhaji dari Dompet Dhuafa. Saat itu, aku memperlihatkan foto Putriku. Aku bercerita sambil konsultasi masalah keagamaan dan tentang anak. Saat dia berkata, “Dia sudah waktunya punya adik, hayoo cepat dikasih adik, Mbak.” Katanya sambil tertawa renyah. Aku tersentak kaget dengan kata-katanya yang hanya canda tapi seakan menyadarkanku dari tidur panjang.

“Ya.. Allah…!” pekikku dalam hati. Aku tidak pernah berpikiran masalah ini sebelumnya. Hatiku kembali terasa perih, pilu karena merasa salah. Yach… aku merasa bersalah dengan putriku. Perasaan bersalah semakin tampak membayangiku. Semenjak itu, selama perjalanan pulang aku terus menyebut Asma Allah dan iqstifar. Dengan segala kekuatan dariNya aku ingin membayar segala kesalahanku pada Putri.

Tengah malam dalam sujudku aku memohon ampun, kuungkapkan segala kesalahan dan khilafku. Kini aku merasakan ada ketenangan, kubuang semua rasa ego mengejar kepuasan dunia. yah, aku mulai memikirkan keinginan Putri untuk memberikan kebahagiaan hidup dengan keluarga yang utuh. Bersamaan Ramadhan ini dalam doaku, meminta di mantapkan hatiku untuk menjadi ibu seutuhnya untuk Putri. Karena aku sadar kebahagiaan bukan diatas harta dunia, tetapi kebahagiaan Putriku ada pada kasih sayang orang tua yang utuh.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar