Cara Paud Dan TK Sederhana Mensiasati Keterbatasan Finansial (Kualitas Sekolah Tidak Ditentukan Oleh Mahalnya)

Bookmark and Share


Cara Paud Dan TK Sederhana Mensiasati Keterbatasan Finansial


Selama ini keterbatasan financial banyak menjadi kendala beberapa pendidik pendidik TK dan Paud untuk mengembangkan sekolahnya. Namun ternyata ada beberapa pendidik anak usia dini yang bisa mensiasati kendala tersebut. Kebanyakan dari mereka berprinsip,”Bila ada usaha pasti ada jalan”, dan ada pula yang bersemboyan,”Kreatifitas akan muncul dalam situasi kepepet”.

Dalam sebuah forum yang saya buat dalam FB (untuk tahu forumnya bisa klik di SINI), saya telah mencoba mendiskusikan hal ini dengan beberapa penndidik anak usia dini yang memiliki PAUD atau TK yang sederhana. Justru di dalam diri mereka banyak yang memiliki kreatifitas yang tinggi dan lebih bisa melakukan pekerjaan mereka dengan hati. Dari beberapa masukan saya mendapatkan tiga cirri khas atau keistimewaan yang paling penting. Keistimewaan tersebuat antara lain.


1. Kekeluargaan
Sifat kekeluargaan biasanya menjadi satu kekuatan bagi para pendidik Paud yang sederhana. Mereka akan lebih mengutamakan kekompakan anatara pendidik yang satu dengan pendidik yang lain. Batas antara kepala sekolah dan guru hampir tidak ada, sehingga dari situ muncul keterbukaan. Dan dari keterbukaan inilah akan muncul ide-ide kreatif, yang akan dikembangkan secara bersama menjadi sebuah keistimewaan dan bisa membangun sebuah cirri khas dari Paud atau TK yang didirikan. Sikap kekeluargaan ini tidak hanya ada antara guru dengan guru, atau guru dengan kepala sekolah (kepala sekolah), namun juga akan menular kepada hubungan guru dengan orang tua. Banyak sekali sekolah yang kurang memiliki faktor ini di sekolah mereka. Biasanya malah ada jarak antara guru dan orang tua, demi menjaga nama baik guru itu sendiri dan nama baik sekolah. Namun di sebuah Paud / TK yang kecil dan sederhana, biasanya hal ini justru menjadi suatu kelebihan bagi mereka. Para pendidik bisa lebih akrab dengan orang tua, tanpa takut gengsi mereka akan turun atau nama baik mereka akan tercemar, karena suatu kesalahan. Dan dengan keakraban dan keterbukaan inilah, pihak orang tua dan guru bisa saling belajar dalam membangun anak didik agar mereka tidak hanya pandai dalam akademis, melainkan juga memiliki moral dan akhlak yang baik dan mulia.

2. Kreatif
Sekolah yang tidak memiliki keterbatasan financial, biasanya akan langsung memanfaatkan peralatan yang ada dan sudah tersedia di sekolah. Sehingga guru kurang terlatih untuk mengembangkan kreatifitas. Dari pelajaran yang saya dapat lewat sebuah diskusi, para pendidik yang bekerja di PAUD dan TK yang sederhana, biasanya lebih kreatif dalam memanfaatkan alam sekitar, misalnya memanfaatkan kebun jagung, memanfaatkan daun-daunan, hewan-hewan kecil, sehingga selain ilmu yang mereka ajarkan, para pendidik juga bisa mengajarkan pentingnya menghargai alam ciptaan Tuhan dan mensyukurinya.

3. Moral dan Keagamaan
Saya pernah mendapatkan sebuah cerita dari seorang teman saya. Beliau adalah seorang pengajar di sebuah TK yang sangat sederhana. Bila dilihat dari gedung, tentu akan sangat jauh bila dibandingkan dengan gedung-gedung sekolah yang ada di kota. Teman saya bercerita bahwa, dia memiliki seorang siswa yang selalu diantar dengan menggunakan BMW saat ke sekolah. Saat mengantar ke sekolah, orang tua anak ini tidak pernah menghentikan mobilnya di depan sekolah. Mereka selalu menghentikan mobilnya di jalan raya, sebelum masuk gang sekolah. Teman saya memang belum pernah menanyakan kepada orang tua anak ini, mengapa mereka lebih memilih menyekolahkan di sekolah teman saya apalagi bertanya mengapa mereka selalu menghentikan mobilnya di jalan raya, sebelum masuk gang sekolah. Satu hal yang saya tahu, TK tempat teman saya bekerja ini memang bukanlah sekolah yang mahal pada umumnya. Namun TK ini memang sangat menonjolkan moralitas dan keagamaan mereka, selain sisi akademisnya. Guru-guru yang mengajarkan terlihat sangat sederhana, namun memiliki hati untuk benar-benar menyayagi anak didik mereka. Sehingga anak didik pun menjadi lebih nyaman dan damai baik dalam belajar maupun bersosialisasi dengan teman dan guru mereka. Semua menjadi lebih baik lagi, karena sekolah tersebut juga memiliki pendidikan agama yang baik pula.

4. Prestasi Non-Akademis
Maksud dari prestasi non-akademis di sini adalah prestasi di bidang-bidang ekstra-kurikuler, misalnya bahasa Inggris, olehraga, dan berbagai macam kesenian. Bila sekolah-sekolah unggulan biasa menonjolkan sisi akademis (nilai sekolah), maka sekolah-sekolah yang memiliki keterbatasan finansial pun alangkah baiknya bisa lebih peka terhadap kelebihan yang dimiliki anak didiknya, dan mengandalkannya saat ada lomba-lomba yang diadakan sekolah lain. Bila sekolah kita menjadi juara dalam suatu lomba, tentu saja nama sekolah kita-pun akan terangkat. Sekolah-sekolah yang memiliki keterbatasan finansial biasanya memiliki anak-anak yang lebih kuat secara mental dan fisik, dan biasanya ini bisa dimanfaatkan untuk meraih prestasi di bidang olahraga.

5. Jaringan
Jaringan yang saya maksud di sini, bukan jaringan ikan lho ya.. Tapi jaringan persahabatan. Bila sekolah yang mapan bisa melakukan sesuatu dan membeli sesuatu dengan kelebihan berkat mereka, nah... Bunda-bunda Paud yang memiliki keterbatasan finansial ini biasanya akan lebih memperkuat jaringan. hal ini sangat penting untuk saling belajar, tidak hanya antara sekolah satu dengan yang lain, namun juga aparatur pemerintah yang lain, terutama yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Lalu jangan lupa juga berelasi dengan orang-orang yang bisa kita "manfaatkan" untuk memenuhi kebutuhan alat peraga kita, misalnya, tukang jahit, tukang sayur, tukang jamu, dan kalau perlu tukang loak. Karena dari mereka kita bisa mendapatkan barang-barang yang bisa kita manfaatkan sebagai alat peraga dengan harga yang relatif lebih murah dan mungkin gratis....Kita sekarang kan juga udah jamannya internet, walaupun memiliki keterbatasan finansial, saya kira bukan hal yang sulit untuk melengkapi sekolahnya dengan fasilitas internet.. Kalau dalam hal ini, saya akan sedikit bagikan pengalaman saya sendiri dalam hal membangun jaringan. Karena keterbatasan finansial jugalah saya sekarang bisa banyak membantu dan dibantu dan memiliki teman-teman dari guru2 PAUD seluruh Indonesia. Saya juga telah banyak mengenal orang -orang yang peduli dengan dunia anak-anak, hiburan anak-anak, dan pendidikan anak-anak. Semoga satu saat saya juga bisa belajar dari temen2 pendidik anak dari luar negeri. Doakan saja... :)

Keterbatasan tidak akan menjadi suatu kendala, bila kita memiliki suatu kreatifitas. Karena bila kita memiliki kreatifitas, keterbatasan justru akan menjadi sebuah kekuatan untuk lebih belajar dan menemukan hal-hal yang baru, yang selama ini mungkin tidak pernah terpikirkan oleh banyak orang yang berada di posisi nyaman. Jadi untuk semua pendidik anak-anak bangsa, marilah kita saling bekerja sama, saling belajar, dan saling melengkapi, tanpa memandang sekolah mereka bagaimana (kaya atau tidak), karena semua sekolah pasti memiliki kelebihan masing-masing, demi terciptanya sitem pendidikan Indonesia yang semakin baik (ZP).

Note: Untuk selanjutnya, saya akan menuliskan beberapa kreatifitas yang bisa digunakan sebagai APE (Alat Peraga).


Silakan mempublikasikan artikel ini dengan menyertakan
Kak Zepe, Lagu2anak.blogspot.com

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar