BULE KECANTOL KARENA JILBAB

Bookmark and Share
Setiap hari mendekati pukul 14.00 siang aku sudah siap-siap berangkat ke pasar. Dari Building May Fair tempat tinggal majikanku naik bus antar jemput sampai Admiralty lalu menuju pasar, perjalanan kepasar aku lebih suka jalan kaki. Selain lebih cepat sampai pasar, aku bisa sambil lihat-lihat pertokoan di pinggir jalan, siapa tahu ada baju murah yang cocok untukku atau untuk putri. Pasar Wan chai langgananku berbelanja, selain besar pasarnya juga lengkap bahkan juga ada toko yang menjual segala produk Indonesia. Biasanya jam pergi ke pasar café malam untuk nongkrong para bule-bule sudah mulai buka. Sehingga aku akan lebih sering berpapasan dengan mereka. Tetapi itu bukan alasanku, pergi ke pasar suka jalan kaki. Dengan jalan kaki aku merasa lebih cepat sampai pasar dan saat belanjapun tidak usah keburu-buru di kejar waktu.
Semenjak aku mengikrarkan untuk berjilbab saat pergi berlibur atau pergi kepasar, banyak perubahan dalam bersikap. Meskipun cuaca memasuki musim panas aku tetap berjilbab. Saat di pasar, sering juga penjual-penjual langgananku merasa risih dengan penampilanku yang serba tertutup. Mereka sering bertanya dengan caraku berpakaian, apakah tidak kepanasan. Tapi, bila aku jawab dengan jujur dia akan tetap tidak mengerti alasanku.
Tidak sedikit orang akan memperhatikanku, sambil bergumam dengan keadaanku. Karena sudah terbiasa, hingga aku tidak merasakan risih bila ada orang yang memperhatikan tata caraku berpakaian. Bahkan ada juga bertanya alasan kenapa harus tertutup, padahal pembantunya yang sama-sama dari Indonesia tidak tertutup bajunya. Dengan sabar aku menjelaskan pada mereka, tentunya dengan kalimat yang mudah dipahami dan di mengerti. Hati berharap, orang yang tanya itu memberikan ijin pembantunya memakai jilbab.
Karena seringnya aku keluar ke pasar, sehingga banyak yang hafal denganku. Begitu juga dengan Mrs. Jonh, dia adalah temannya Mrs. Alex mantunya majikanku. Mrs. Jonh mempunyai café di kawasan Wan chai, setiap hari saat aku berangkat ke pasar sesalu melewatinya. Sehingga kadang aku berpapasan dengannya saat dia berada di depan café. Bahkan kadang dia akan menyapaku, aku hanya tersenyum tipis dengan langkah sedikit kupercepat karena takut kalau di suruh mampir seperti hari-hari sebelumnya.
Seperti pepatah jawa, “Tresno jalaran saka kulino” yah, itu pepatah kata yang cocok di luntarkan pada Mrs. Jonh. Sebab, setelah seringnya bertemu denganku meskipun hanya sebentar, mungkin tidak ada satu menit dia semakin sering memperhatikanku. Kadang, aku risih juga dengan tatapannya yang menurutku sangat berbahaya. Sehingga aku merasa tidak nyaman bila melewati cafenya.
Karena merasa tidak nyaman jalan depan cafenya. Akhirnya aku lewat jalan lain meskipun sedikit agak jauh, tapi biarpun jauh aku merasakan tenang. Tanpa ada yang memperhatikanku jalan, siapa sih yang mau jalan diperhatikan dengan tatapan mata penuh hasrat. Jelas semua perempuan akan merasa risih atau tidak bebas bergerak saat jalan.
Lima bulan kedepan, aku sudah tidak pernah bertemu dengan Mrs. Jonh orang Australia itu. Aku pikir sudah aman bagiku, aku bisa bebas jalan kemana-mana tanpa ada yang perhatikan ternyata diluar dugaan. Ada khabar heboh, lebih heboh dengan senyumnya Mrs. Jonh saat aku jumpai di depan cafenya. Sempat ini aku anggap hanya mimpi yang menggangguku setiap malam. Atau mungkin salah dengar saat dijelaskan oleh majikanku.
Waktu itu, senin pagi saat aku membersihkan ruang tamu. Tiba-tiba ada telepon, entah dari mana. Karena sudah menjadi peraturan kalau aku hanya boleh terima telepon yang ada di dapur saja. Bila yang berdering telepon ruang tamu aku tidak mengangkatnya meskipun berdering berulang kali. Kuteruskan aktifitas kerjaku membersihkan ruang tamu. Sedangkan majikanku terima telepon dari kamar pribadinya.
Entah kenapa hari itu dadaku terasa berdetak kencang seolah ada yang sedang membicarakanku. Seketika pikiranku di rumah, dan menduga-duga apa yang terjadi. kalaupun mau telepon tidak mungkin aku melakukan pagi hari, bisa-bisa aku akan mendapatkan lagu wajib dari majikanku. Segera aku buang jauh-jauh prasangka buruk yang bersemayan di pikiranku.
Hari itu, seperti biasa aku melakukan aktifitas pekerjaan sesuai jadwal hari-hari sebelumnya. Tapi, aku merasakan ada yang lain dengan sikap majikanku, segera aku intrupeksi diri dan mengoreksi semua pekerjaanku mulai pagi hingga sore, apakah ada yang salah dan atau mungkin ada yang kurang beres. Hmm… semua beres, tidak aku temukan kesalahan apapun. “Haruskah aku bertanya?” gumamku.
“Adheng, sini kamu.” Panggil majikanku sore itu sepulang dari pasar.
Seketika dadaku berdebar kencang. Pasti ada kesalahan, karena aku sudah paham betul dengan sikap majikanku. Bila ada kesalahan dalam bekerja dia tidak akan langsung menegurku. Tapi menunggu waktu tepat untuk menatar diriku, ini tidak hanya kepadaku tetapi juga kepada anak-anaknya yang berada di Amerika.
Aku diam didepan majikanku. Kutatap lantai yang terbuat dari marmer mahal. Berusaha aku kuingat dan mengoreksi pekerjaanku lewat lantai kotak-kotak itu, berharap menemukan satu kesalahan sehingga majikanku menyuruhku menghadap padanya. setelah beberapa menit diam dengan wajah seram, semenit kemudian dia tersenyum sambil memandang tingkah lakuku yang kayak bekecot, sebentar-bentar memandangnya lalu menunduk lagi.
“Adheng, kamu tahu temannya Mrs. Alex yang bernama Mrs. Jonh?” tanyanya sambil tatapannya tak lepas dariku.
“Degg..!” suara detak dadakku saat mendengar sebuah nama yang selama ini aku takuti dan aku hindari untuk bertemu dengannya.
“Iya. Tapi s..ssaya tidak mengenalnya. C..Cuma tahu orangnya, Nyah.” Jawabku terbata-bata. “Pasti ada yang tidak beras.” Gumamku.
“Seandainya kamu dijadikan istrinya mau tidak? Tadi Mrs. Jonh telepon katanya suka kamu dan katanya dia tidak mempermasalahkan kamu tetap memakai jilbab. Karena dia suka wajahmu saat memakai jilbab, gimana? Tapi piker dulu.
Dadaku semakin berdebar hebat. Kedua telapak kakiku langsung terasa kesemutan, sedangkan bibirku kelu mau menjawab apa. Oh, diluar pikiranku. Sejak aku dipanggil yang ada dalam pikiran tentang kesalahan kerjaku. Tetapi kenyataannya masalah diluar kerja, tetapi masalah hati orang yang tertarik denganku karena jilbab.
Malam tiba. pikiranku kembali merekam kata-kata majikanku sore hari. Sekelibatan wajah Mrs. Jonh membayangiku seolah menari-nari didepan mata. Bayangkan indah bila menjadi istrinya mengodaku, yah pasti bahagia. Gimana tidak. Mrs. Jonh orang yang kaya, baik hati, bahkan sudah menjadi penduduk Hongkong. Kalau menikah dengan dia pasti aku akan menjadi orang Hongkong seperti idamannya teman-teman.
Oh, tidak. Segera aku tepis semua iming-iming kebahagian semu yang menari-nari diatas langit-langit kamarku. Aku dengannya tidak seiman, aku tidak mungkin menggadaikan agamaku demi kebahagiaan dunia. Dengan usaha keras aku alihkan pikiran kotor yang akan mempengaruhiku untuk menerima lamarannya. Memang ada sedikit keinginan menerima, meskipun sedikit.
Malam itu, aku susah tidur. Bayangan wajah Mrs. Jonh saat senyum terus menggoda pandanganku. Sedangkan kata-kata majikanku terus sayup-sayup terdengar di telingaku. Seakan ada zat yang berusaha mempengaruhiku untuk menerima tapi ada pula zat yang menyuruhku untuk berpikir panjang lagi. Benar-benar hatiku kalut dan bimbang dengan perasaan yang tidak jelas. Sampai-sampai mata tidak mau dipejamkan.
Aku merasa ini cobaan terberat. Sebab, banyak orang-orang Indonesia atau philipina yang berusaha keras mencari suami bule atau penduduk Hongkong supaya bisa mendapatkan visa menjadi penduduk Hongkong sehingga tidak usah bekerja sebagai rumah tangga. Sedangkan aku, tidak susah-susah mencari tetapi ada yang datang sendiri melamarku.
Karena tidak ingin aku terbawa hanyut dengan impian membual. Dengan langkah gontai aku beranjak bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Aku ambil air wudhu, lalu aku bersiap menghadap ke padaNya. Ini jalan terbaik, sesuai yang diajarkan Rasul. Yah, saat itu aku langsung bersujud minta bantuan padaNya untuk memberikan pilihan terbaik untukku.
Pagi cerah. Seperti biasa mengawali pekerjaan aku membuat sarapan untuk majikan. Lalu mengerjakan pekerjaan lain. Pagi itu, aku berharap majikan tidak mempertanyakan masalah kemarin lagi. Supaya tidak membuat debat batin sehingga akan membuat konsentrasiku buyar. Sambil berzikir dalam hati, aku sedikit menghindar berpapasan dengan majikan perempuan, itu usahaku.
“Ya Allah kuatkan imanku,” doaku dalam hati.
“Adheng, gimana? Sayang lho kalau sampai di tolak. Dia itu orang kaya dan baik hati. Tar biar aku yang mendampingi pernikahanmu.” Kata majikanku dengan nada membujuk.
Seketika hatiku kembali bimbang karena terpengaruh kata-kata majikan. Bingung mengartikan kata-kata majikan itu sebuah jawaban dari Allah atau dari setan. Aduh… ingin teriak atau menyambar telepon genggamku telepon minta pendapat teman. Tapi juga kwatir nanti teman-temanku malah mendukung, bisa-bisa aku terpuruk dengan kebingunganku ini.
“Ya Allah… ya Allah…,” zhikirku dalam hati terus menerus. Sedangkan kata-kata majkanku seakan terus terdengar mengalun di telinga. Padahal sudah berhenti bicara atau membujukku.
Dengan langkah sedikit lari, aku menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar pribadiku. Kubasahi mukaku dengan air, sambil terus hatiku menyebut asma Allah. Aku harus menemukan jawaban tepat supaya tidak membuat penyesalan yang berkepanjangan. Yah, meskipun aku di beri waktu satu minggu untuk menjawab, tapi aku sudah putuskan kalau hari itu juga bisa memberi jawaban tegas.
Ini keputusanku supaya aku dapat konsentrasi bekerja lagi. Beban berat bagiku kalau sampai seminggu aku harus memikirkan hal ini. Karena pernikahan adalah ibadah, bukan sebuah permainan tebak-tebakan. Aku tidak boleh mengulangi dengan kesalahan masa lalu, yang pernah gagal dalam berumah tangga. Pernikahan kedua aku berharap pernikahan terakhir bagiku dan pernikahan ini juga buat anakku.
Waktu terus berjalan hingga siang. Setelah makan siang dan memberesi meja makan lalu cuci semua alat makan yang kotor, aku bersiap kepasar. Tekatku, aku akan datang ke Mrs. Jonh untuk memberikan jawaban. Meskipun jawabannya belum aku temukan, aku tetap akan datang. Doaku dalam hati, sampai berjumpa dengannya ada jawaban yang tepat dan jawaban itu dariNya. Supaya tidak salah.
Sebelum berangkat, aku sholat duhur dan minta bantuanNya. Dengan hati kalut dan bimbang aku melangkah keluar rumah turun ke lantai dasar tempat bus antar jemput building parkir. Seperti biasa, aku akan duduk belakang dan turun di perbatasan Wan Chai dan Admiralty, supaya cepat sampai tujuan, yaitu café-nya Mrs. Jonh.
Gemuruh dadaku kian memburu saat bus yang aku naiki sampai depan kantor polisi biasa aku turun. Alunan dzikir terus berkumandang dalam hati, menenangkan hatiku sendiri. Sedangkan pikiranku berusaha tidak mengingat kata-kata majikan yang berbau mempengaruhiku. Semakin dekat, hatiku semakin gemuruh hebat, seakan ada sinyal-sinyal suka pada Mrs. Jonh. Yang aku rasakan saat itu, seperti ada magnet yang mendorongku suka padanya. Pikiran ketidak pastian, rasa takut berjumpa menjalar hingga langkahku ragu menuju cafenya.
Tepat di depan café aku melihat Mrs. Jonh sedang bicara dengan karyawannya. Melihat aku di depan pintu, segera dia mendatangiku. Melihat tatapannya, kakiku lemas dan pandanganku semakin lemah tidak kuasa aku menatap matanya. Seketika aku menundukkan pandanganku, padahal biasanya orang barat tidak menyukai sikap itu.
“Mrs. Jonh, I’am Sorry can’t marrid with you. I’am sorry.” Kataku saat itu dengan sedikit gemetar.
Aku langsung pamit meninggalkannya yang masih bengong di depan pintu. Entah, keberanian dari mana aku melontarkan sebuah jawaban itu. Padahal tidak ada pikiran sedikitpun untuk menolaknya. Tetapi, hatiku terasa lega, dadaku tidak sesak dan berdebar-debar lagi. semua terasa plong, seakan tersiram air dingin. Aku kembali bersyukur dalam hati, karena aku yakin bahwa ini sebuah jawaban yang datang dariNya dengan tiba-tiba. Yah, aku yakin itu, sebab Allah maha mengetahu dan maha mendengar. Dimanapun Allah selalu ada.







{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar