RUMAH PENUH HIDAYAH

Bookmark and Share
Reno biasa teman-teman memanggilku, panggilanku saat masih berlagak seperti laki-laki. Kemeja putih besar, celana jeans komprang dengan asesoris rantai disamping celana, setelan paling aku suka. Setelan paforitku saat masih bersama Yanti, kekasih sejenisku yang kini entah dimana. Semenjak tahu kalau aku menikah dengan laki-laki dia pergi menjauh dariku.

Aku terlalu mencintainya, hingga lupa bahwa kita sama-sama perempuan. Memang sangat berat bagiku melupakan dia, tapi semua ini tidak mungkin aku teruskan. sekarang, aku bukan Reno yang dulu lagi, berwajah tampan. Juga bukan seorang yang gagah akan selalu melindungi setiap langkahnya pergi saat libur. Semua berubah. Ya, berubah karena aku sadar bahwa aku bukanlah calon seorang suami tetapi calon seorang istri.

Aku mengenal Yanti, saat sama-sama kerja di daerah Tai po. Aku dan dia jarak kedatangannya di Hong Kong selisih beberapa bulan. Bahkan, kita sama-sama libur hari minggu. Jarak rumah majikan kita dekat, tidak sulit untuk sering bertemu, entah saat ke pasar atau saat berangkat libur. Semakin lama kita bertemu, sehingga semakin dekat. Tanpa aku sadari hingga tumbuh benih-benih cinta selayaknya cinta dengan laki-laki dan perempuan.

Setiap hari kita ngobrol lewat telepon, bahkan ke pasarpun kita selalu bersama. Sejak pagi hingga petang majikan kita sama-sama di kantor. Berjalannya waktu beriringan dengan perjalanannya hubungan kita. Setiap hari kita saling curhat dengan masalah kita masing-masing. Sehingga waktu telah menyatukan kita menjadi pasangan kekasih selayaknya pasangan romeo dan yuliet.

Oh, saat itu aku benar-benar sadar bahwa hubungan sejenis dilarang agama tapi rasa cintaku padanya sangat besar. Hatiku sangat tersiksa bila tidak bertemu atau mendengar suaranya sehari saja. Hingga akhirnya, aku mengajak dia mengikat janji untuk selalu bersama. Bahkan, karena body fisikku menyerupai laki-laki banyak teman bilang kita pasangan yang serasi. Dengan pujian itu, membuat aku semakin takut kehilangan dirinya.

Hubungan ini berjalan hampir empat tahun. Waktu yang tidak pendek, rencana demi rencana kita susun untuk selalu bersama mengarungi kehidupan. Kita semakin dalam mengarungi kehidupan nista dan hina ini. Banyak teman-teman mengingatkanku. Tapi semua sia-sia tidak bisa mengalahkan setan merasuk dalam hatiku. Setiap ada teman mencoba menasehatiku, rasa cintaku pada Yanti semakin besar dan kita erat untuk selalu bersama. Begitu juga yang dirasakan Yanti merasa kesulitan untuk berpisah denganku. Meskipun demikian, kita belum sampai melakukan zina seperti suami istri melamar ke hotel segala.

Hubungan kita sudah dapat dipandang pacaran, tetapi kita masih hanya sekedar ciuman saja tidak lebih. Pernah suatu hari aku mengajak Yanti melamar ke hotel melakukan yang lebih parah tapi kita masih ada perasaan takut. Yah, kita masih merasa takut untuk melakukan lebih jauh.

Meskipun hubungan kita masih belum melakukan sesuatu yang lebih jauh. Tetapi kita sudah selayaknya sepasang suami istri yang saling melindungi dan saling menyayangi. Bahkan aku tidak segan membelikan hadiah macam-macam untuk ungkapan rasa sayangku, begitu juga dia. Tujuan utama datang ke Hongkong telah sirna karena hasutan setan dalam pikiran masing-masing.

Setiap gajian uang ludes, hanya untuk membeli barang-barang tidak berguna. Bahkan kita sama-sama tidak mempunyai tabungan masa depan. Ada dalam pikiran kita hanya bersenang-senang saja. Tanpa memikirkan masa depan lagi. Dengan kedekatan kita seolah kita mendapat kebagiaan yang abadi, pikiran untuk mengenal kaum adam sudah hilang dalam diri kita. Bahkan yang ada hanya rasa cenburu bila aku mnelihat Yanti melirik laki-laki beneran.

Setiap pujian dan sanjungan dari teman-teman, membuat kita semakin bangga dan semakin sulit untuk berpisah lagi. Sehingga ada pikiran juga kita akan tetap bersatu sampai nanti pulang Indonesia. kita tanpa berpikir panjang apa kata teman-teman tentang kita, tapi yang pasti kita hanya ingin menuruti hati, selain itu aku sendiri merasa tidak menggu orang lain jadi aku cuek bila ada teman membicarakan tentang kedekatanku dengan Yanti.

Dengan begitu kita menganggap bahwa Allah telah menyetujui hubungan kita. Sungguh saat itu aku sangat malu bila ingat kejadiannya. walaupun kini aku sudah bertobat, tapi bila ingat aku merasa malu sendiri dengan perbuatanku. Kadang rasa kecewa menelusup pada diri sendiri, bukan karena perpisahan dengan Yanti tapi kecewa karena merasa diriku telah menjadi budaknya setan. Menjadi budaknya nafsu yang tumbuh dalam hatiku untuk melakukan perbuatan kotor.

Hidayah yang membuatku sadar, saat aku cuti pulang ke kampong halaman. Saat itu, kepulanganku selain menjenguk keluargaku, aku juga bermaksud menjenguk keluarga Yanti sekalian minta doa restu kebersamaan kita. Pertama aku datang, keluargaku sempat kaget dengan caraku berpakaian dan potongan rambutku. Tapi berkat alasanku bahwa ini permintaan majikan, aku aman tidak kena marah keluargaku. Entah ini kebohongan yang keberapa aku buat.

Setelah seminggu aku di rumah, akhirnya aku putuskan main ke rumah Yanti. Aku sangat kaget waktu itu melihat keluarga besar Yanti. Ada rasa minder dan takut menjalar dalam diriku melalui urat nadiku. Hingga menarik kuat untuk urungkan datang masuk halaman rumahnya. Aku tidak tahu sebab apa, tapi yang jelas aku tidak berani datang ke rumah itu. Rumah itu seolah tidak mau terima kedatanganku. Iyah, seolah tahu kalau aku manusia kotor tidak layak masuk rumah yang penuh dengan pancar sinar cahayaNya.
Ternyata, Yanti datang dari keluarga yang sangat kental agamaya. Makanya, saat aku suruh potong rambut pendek seperti rambutku, dia tidak mau. Bahkan aku juga belum pernah melihat Yanti memakai pakaian yang terbuka. Oh, saat itu aku merasa semakin tidak berdaya, saat melihat ibunya Yanti keluar dengan pakaian gamis panjang dan jilbab panjang pula. Hatiku seolah menjerit, yah menjerit ingin marah, nangis, teriak tapi tidak sanggup kulakukan.

Rasa keinginanku datang ke rumahnya telah pupus. Aku hanya melihat keluarga besar Yanti dari jarak jauh. Rumah itu indah dan nyaman, dengan penataan taman bunga yang tepat dan juga musholanya kecil tapi bagus. Pokoknya, semua serba asing bagiku. Aku kembali ke rumah dengan langkah loyo tidak ada gairah lagi. Seolah dunia ini mau kiamat.

Aku sangat menyesal telah menabur benih cinta terlarang dalan hati Yanti. Sungguh, aku sangat kecewa pada diriku sendiri telah memperdaya Yanti, seolah aku sanggup membahagiakan seperti sikap laki-laki membahagiakan kekasihnya. Aku baru nyadari kalau sikapku selama ini salah, yah salah dalan segi agama maupun sosial. Tapi, yang membuatku heran kenapa Yanti mau, padahal dia datang dari keluarga baik-baik. Apa maksudnya selama ini.

Sepulang dari rumah Yanti aku menangis tergugu dalam masjid. Saat itu, ada saudaraku melihat, kemudian aku cerita apa adanya yang aku alami. Akhirnya, berkat saudaraku itu aku dikenalkan laki-laki tetangga desa. Dia laki-laki yang taat agama, meskipun hanya bekerja sebagai petani tapi sifat perbuatannya baik dan taat pada agama.
Maka, tanpa berpikir panjang, aku menerimanya untuk menikah dengannya. Aduh, hatiku lega, bahkan jiwaku tenang setelah menjadi istrinya. Dengan sabar dia membimbingku untuk melaksanakan perintah Allah. Bahkan, yang membuatku semakin saying kerelaannya untuk mencintaiku tanpa mengingat semua masa laluku.

Kini aku baru nyadari, alasan Yanti selalu menolak bila aku ajak melamar di Hotel, bahkan saat aku ajak tukar cincin dia selalu menghindar, mau bila aku sudah minta restu pada keluarganya. Tapi kini, aku tidak berdaya melakukannya. Karena aku menyadari bahwa aku bukan seorang laki-laki, mana mungkin aku datang pada kedua orang tua Yanti untuk meminta restunya. Jelas tidak mungkin, mereka tidak akan merestui niatku ini karena melanggar agama.

Sekarang, aku merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang wanita disayangi laki-laki. Semua kenangan masa lalu terkubur, tidak mungkin aku akan mengulangi lagi. Aku sekarang menjadi seorang istri bukan lagi laki-laki palsu seperti yang dulu aku lakukan. Kebahagiaan yang aku rasakan saat ini lebih abadi dari pada kebahagian dahulu.

Aku sangat menyesal dengan masa laluku, waktuku terbuang hanya untuk bersenang-senang. Entah berapa uang aku keluarkan untuk hal yang tidak berguna, sedangkan aku tidak mungkin akan tinggal di Negara orang selamanya. Jelas suatu saat nanti pasti kembali ketanah air. Tapi saat itu, memang belum ada pikiran-pikiran yang sekarang ada. Yang ada hanya pikiran bersenang-senang dengan teman-teman atau Yanti pacar sejenisku.

Sekarang aku hati-hati melangkah ke depannya. Semua demi rumah tanggaku yang baru berusia seumur jagung. Aku harus bisa menjadi istri yang baik sesuai keinginan suamiku. Yah, berkat suamiku aku sekarang sadar dan kembali pada kodratku sebagai wanita. Aku juga berdoa untuk Yanti semoga dengan permisahan ini membuat dia sadar dan kembali kejalanNya.

Biarpun aku tidak aktif organisasi Islam, tapi setiap ada pengajian aku selalu hadir datang. Ya, dengan begitu aku akan merasa dekat dengan firman Allah melalui tausyiah Ustad yang datang diundang. Bila sebelumnya uang habis buat hura-hura, kini berkat bantuan suamiku untuk mengatur keuanganku, aku dapat membeli tanah dan kini dengan gotong royong dengan suami dibangun rumah.

Meskipun hati kecilku masih ingin bertemu dengannya, tapi bukan untuk mengulangi berbuatan dahulu. Melainkan, aku ingin mengajak dia untuk kembali kejalan Allah. Aku akan merasa berdosa bila tidak dapat membawa dia kembali ke jalan Allah. Karena akulah dia terjerumus dilingkungan lesbi. ( kisah teman dituturkan pada saya )

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar